Pemerintah Lambat Respons, Warga Krajan Jombang Swadaya Beton Tanggul Sungai Sekunder

  • Whatsapp

JOMBANG | DN – Khawatir diterjang banjir susulan, warga Dusun Jombang Krajan, Desa/Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, terpaksa mengumpulkan dana swadaya untuk memperbaiki tanggul Sungai Sekunder Gude-Ploso yang ambrol. Langkah ini diambil usai tanggul sepanjang 200 meter tersebut dibiarkan rusak tanpa penanganan permanen selama dua tahun terakhir.

Kerusakan tanggul yang berlokasi di sebelah utara Pabrik Gula Jombang Baru ini kian memprihatinkan. Struktur tanah yang tergerus arus sungai menyisakan lubang besar dan rekahan tajam, yang berpotensi memicu luapan air setiap kali intensitas hujan meningkat.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Salah seorang warga terdampak, Masrukin (65), mengungkapkan bahwa luapan air sungai kerap menerobos masuk ke permukiman akibat rusaknya tanggul tersebut. Ketinggian air bahkan pernah mencapai satu meter di beberapa titik lokasi.

“Ambrolnya sudah sekitar dua tahun. Plengsengan banyak yang berlubang, jadi air terus menggerus bawahnya. Kalau sungai meluap, air pernah masuk rumah warga, mulai dari setinggi lutut sampai satu meter,” ujar Masrukin, Rabu (12/8/2026).

Sedikitnya 10 rumah yang dihuni 15 Kepala Keluarga (KK) kini berada dalam bayang-bayang ancaman banjir bandang jika struktur tanggul jebol total. Lambatnya respons dinas terkait mendorong warga mengambil tindakan cepat dengan merabat beton area yang tergerus.

Proses perbaikan darurat ini mengandalkan modal pribadi warga. Suwadi, warga setempat yang menyokong dana awal perbaikan, menyebutkan biaya yang dikeluarkan sementara telah menembus jutaan rupiah.

“Bahan material saja sudah habis sekitar Rp2,5 juta dari uang pribadi. Ini belum selesai, rencananya akan dirabat beton penuh. Dulu tanahnya rata, tapi karena tergerus terus jadi miring dan ambles,” tutur Suwadi.

Ketua RT 02 RW 01 Dusun Jombang Krajan, Imam, menegaskan pihak lingkungan telah berulang kali menyampaikan kondisi darurat ini kepada pemerintah desa. Namun, hingga saat ini belum ada realisasi penanganan dari instansi berwenang.

“Sudah saya sampaikan ke kepala desa dan katanya sudah dilaporkan ke atas, tapi memang belum ada tindak lanjut. Makanya warga sepakat gotong royong perbaiki sendiri seadanya supaya tidak jebol,” kata Imam.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang, Imam Bustomi, menjelaskan bahwa kewenangan perbaikan struktur Sungai Sekunder Gude-Ploso tidak berada di ranah pemerintah daerah.

“Sungai Sekunder Gude-Ploso berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas,” jelas Bustomi singkat.

Upaya konfirmasi telah dilakukan ke kantor perwakilan BBWS Brantas di Jalan Patimura Nomor 100, Jombatan, Jombang. Namun, pihak kebersihan dan penjaga setempat menyatakan pimpinan instansi tersebut sedang bertugas di Surabaya, sehingga belum bisa memberikan statement resmi terkait rencana perbaikan tanggul. [STS]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *