Cegah Penularan HIV Sejak Dini, Pemkab Sidoarjo Perkuat Edukasi Seksual dan Karakter Pelajar

  • Whatsapp

SIDOARJO | DN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo terus memperluas strategi pengendalian penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tidak hanya berfokus pada deteksi dini dan skrining kesehatan medis, Pemkab Sidoarjo kini memperkuat langkah promotif dan edukatif yang menyasar anak usia sekolah melalui program Sidoarjo Youth Safeguard 2026.

Kegiatan edukasi tersebut berlangsung di Auditorium KH. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) pada Rabu (5/8/2026). Program kolaboratif yang menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo, Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair), dan Umsida ini merangkul serta mengedukasi ratusan pelajar tingkat SMA dan SMK se-Kabupaten Sidoarjo.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Langkah ini dilakukan untuk memberikan pemahaman seksual yang tepat sekaligus memutus rantai penularan virus sejak dini. Dinkes Sidoarjo sendiri telah memperkuat skrining HIV di seluruh kelompok usia berdasarkan siklus hidup, mulai dari pemeriksaan ibu hamil melalui program triple eliminasi (HIV, sifilis, dan hepatitis B) hingga pemeriksaan dini pada bayi agar risiko penularan dapat dicegah sejak awal.

Di samping itu, perwakilan Dinkes Sidoarjo, dr. Lakhsmi, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai misinformasi mengenai cara penularan HIV. Ditegaskan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial harian seperti berjabat tangan, berpelukan, belajar bersama, berbagi makanan, menggunakan toilet yang sama, maupun gigitan nyamuk.

“Penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta dari ibu kepada bayi apabila tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui,” jelasnya.

Tidak hanya dari sisi medis, para pelajar juga dibekali penguatan karakter agar terhindar dari perilaku berisiko. Psikolog Pendidikan dan Keluarga, Widji Lestari, menyampaikan bahwa remaja perlu memiliki ketahanan mental dan ketegasan sikap.

“Remaja perlu memiliki rasa percaya diri dan keberanian untuk mengatakan ‘tidak’ terhadap berbagai ajakan yang dapat berdampak pada perilaku berisiko,” ungkap Widji.

Menutup kegiatan, dr. Lakhsmi menekankan bahwa pembentukan benteng diri tersebut membutuhkan sinergi dari seluruh lapisan elemen pendukung di sekitar remaja.

“Percaya diri dan berani berkata ‘tidak’ merupakan benteng penting bagi remaja untuk menjaga diri. Karakter tersebut harus dibangun secara berkesinambungan melalui peran aktif keluarga, sekolah, dan lingkungan sehingga mereka mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab,” pungkasnya. [SWD]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *