BOJONEGORO | DN – Kasus penyakit batu ginjal di Kabupaten Bojonegoro tergolong cukup tinggi. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo bahkan mencatat rata-rata menangani hingga 100 tindakan operasi batu saluran kemih setiap bulannya.
Menyikapi fenomena tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bergerak cepat mengedukasi masyarakat terkait pola hidup sehat dan penanganan medis yang tepat. Edukasi ini dikemas menarik melalui talkshow radio dalam program “SAPA! Bojonegoro” di Malowopati FM, Rabu (15/7/2026).
Hadir sebagai narasumber, dokter spesialis urologi RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, dr. Roy Dwi Antariksa Kristanto. Dalam acara yang dipandu penyiar Lia Yunita tersebut, dr. Roy meluruskan persepsi masyarakat mengenai penyebab utama batu ginjal yang selama ini kerap dikaitkan dengan tingginya kandungan kapur pada air minum di Bojonegoro.
“Faktor lingkungan seperti air memang diduga ikut memengaruhi. Namun, penyebab batu ginjal sebenarnya multifaktor, mulai dari faktor keturunan (genetik) hingga pola hidup masyarakat itu sendiri,” ujar dr. Roy.
Ia menjelaskan, batu ginjal terbentuk dari endapan zat makanan dan minuman yang mengkristal akibat gangguan tertentu dalam tubuh, sehingga tidak dapat luruh bersama urine. Mengingat penyakit ini umumnya menyerang usia dewasa, ia menyarankan masyarakat melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan urine lengkap dan USG, bahkan sejak sebelum menikah.
Kabar baiknya, dr. Roy menegaskan bahwa penanganan batu ginjal saat ini tidak selalu berujung di meja operasi besar. Penanganan medis akan disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari perbaikan gaya hidup, pemberian obat-obatan, hingga pemanfaatan teknologi Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) yang menghancurkan batu menggunakan gelombang kejut.
Jika terpaksa harus dilakukan tindakan pembedahan, masyarakat kini tidak perlu khawatir. RSUD Sosodoro Djatikoesoemo telah dilengkapi teknologi kedokteran mutakhir dengan metode minimal invasif.
“Operasi sekarang tidak identik lagi dengan sayatan besar. Kami menggunakan alat endoskopi yang dibantu teknologi laser. Metode ini jauh lebih aman, minim luka, dan proses pemulihan pasien sangat cepat. Jika kondisi pascaoperasi baik, pasien umumnya sudah bisa pulang dalam satu atau dua hari,” terangnya.
Di akhir dialog, dr. Roy mengimbau masyarakat Bojonegoro untuk melakukan tindakan pencegahan sederhana namun efektif. Caranya adalah dengan rutin berolahraga, aktif bergerak, serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan meminum air putih 1,5 hingga 2 liter setiap hari. Aktivitas fisik yang baik dipercaya dapat membantu menghancurkan atau mengeluarkan batu ginjal yang masih berukuran kecil secara alami.
Melalui program edukasi ini, Pemkab Bojonegoro berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan ginjal dan melakukan screening berkala dapat terus meningkat demi menekan angka kasus di daerah tersebut. [J2]








