TARAKAN | DN – Gebrakan besar dilakukan oleh UPT Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan. Lembaga pendidikan ini resmi dinobatkan sebagai salah satu dari 29 sekolah model nasional untuk implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA).
Pencapaian ini menempatkan SKB Tarakan sebagai satu-satunya satuan pendidikan nonformal (PNF) di Kalimantan Utara yang memelopori transformasi pendidikan masa depan tersebut. Status ini diberikan pemerintah pusat sebagai bentuk pengakuan atas kapasitas manajerial dan besarnya antusiasme masyarakat terhadap layanan pendidikan kesetaraan di wilayah ini.
Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Abdul Razaq, menyatakan bahwa penunjukan ini merupakan tantangan sekaligus peluang besar bagi daerah.
“Di tingkat nasional, hanya ada 29 lembaga PNF yang dipercaya menjadi sekolah model. Kami bersyukur SKB Tarakan masuk dalam daftar tersebut. Ini adalah bukti bahwa kualitas pendidikan nonformal kita diakui dan siap menjadi rujukan bagi wilayah lain, khususnya di Kalimantan,” ujar Abdul Razaq, Selasa (16/6).
Saat ini, SKB Tarakan menaungi 380 warga belajar yang tersebar di program Paket A, Paket B, dan Paket C. Angka tersebut menjadi indikator vital tingginya kebutuhan masyarakat Tarakan akan akses pendidikan yang adaptif dan berkualitas.
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar mengejar teknologi. Fokus utamanya adalah transformasi kualitas belajar-mengajar secara holistik.
“Ada tiga pilar utama yang kita garap: kualitas hasil belajar peserta didik, kompetensi pendidik dalam mengajar, dan penguatan kepemimpinan di satuan pendidikan. Semuanya akan kita sinkronisasikan dengan visi sekolah model agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman,” jelas Patmaria.
Meski antusiasme tinggi, Patmaria mengakui bahwa pengembangan sarana prasarana masih membentur dinding realitas berupa keterbatasan lahan. Meskipun pemerintah pusat telah memberikan bantuan revitalisasi untuk perbaikan gedung, kendala ruang gerak yang terbatas membuat optimalisasi fasilitas tidak bisa maksimal.
“Revitalisasi bangunan sudah masuk dalam rencana program. Namun, kami berharap ke depannya ada solusi terkait ketersediaan lahan yang lebih representatif. Tujuannya sederhana, agar pelayanan kepada warga belajar semakin optimal dan ekosistem sekolah model ini bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” pungkasnya. [BAYU]








