Dua Tradisi, Satu Makna: Tahun Baru Islam dan Satu Suro dalam Bingkai Kebhinekaan

  • Whatsapp

LAMONGAN | DN – Saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, sebuah pergantian waktu yang sakral pun dimulai. Senja bukan sekadar penanda berakhirnya hari, tetapi juga menjadi gerbang spiritual yang mempertemukan dua tradisi besar: Tahun Baru Islam 1 Muharram dan malam Satu Suro dalam penanggalan Jawa.

Bagi masyarakat Jawa-Muslim, momen ini bukan hanya perayaan kalender, melainkan ruang refleksi yang sarat makna. Dua tradisi yang lahir dari akar berbeda itu berjalan beriringan, menyatu dalam harmoni budaya dan spiritualitas yang telah diwariskan lintas generasi.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Di berbagai sudut kampung dan kota, suasana menyambut 1 Muharram terasa hangat dan penuh harap. Halaman masjid menjadi titik temu warga, dihiasi cahaya obor dan lentera yang digenggam anak-anak hingga orang dewasa. Pawai obor itu bukan sekadar tradisi, melainkan simbol doa agar tahun baru membawa terang iman, keberkahan, dan petunjuk hidup.

Takbir dan doa akhir tahun serta awal tahun menggema, mengiringi kesadaran kolektif akan makna hijrah—bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi perubahan batin. Tahun baru Hijriah dimaknai sebagai ajakan untuk meninggalkan keburukan, memperbaiki diri, dan melangkah menuju kehidupan yang lebih bertakwa.

Di sisi lain, malam yang sama disambut dengan suasana berbeda dalam tradisi Jawa. Satu Suro hadir dalam keheningan. Di bawah cahaya bulan sabit dan aroma kemenyan yang samar, masyarakat menjalani tirakat, tapa bisu, dan ritual reflektif lainnya.

Kirab budaya digelar tanpa hiruk-pikuk. Lelaki dan perempuan mengenakan beskap, kebaya, serta kain batik bermotif pakem. Mereka berjalan perlahan, menundukkan kepala, mengitari kawasan yang dianggap sakral. Gunungan hasil bumi, buah-buahan, dan air suci dibawa dengan penuh khidmat sebagai wujud syukur kepada Gusti Allah atas limpahan rezeki, sekaligus doa tolak bala untuk tahun yang akan datang.

Meski tampak berbeda—yang satu meriah bercahaya di masjid, yang lain hening di pelataran tradisi—keduanya berangkat dari semangat yang sama: muhasabah dan rasa syukur. Inilah wujud nyata akulturasi yang telah berabad-abad mengakar di Tanah Jawa.

Sejarah mencatat, penyatuan penanggalan Islam dan Jawa tak lepas dari peran Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Kesultanan Mataram yang pada abad ke-17 mengintegrasikan kalender Hijriah dengan sistem penanggalan Jawa. Warisan itulah yang membuat 1 Muharram dan Satu Suro jatuh pada malam yang sama hingga kini.

Bagi masyarakat Jawa-Muslim, keduanya adalah dua sisi dari satu koin: kesempatan untuk menengok masa lalu dengan jujur dan menata masa depan dengan niat yang lebih suci. Dalam perbedaan ekspresi, nilai spiritual tetap berpadu—menjadi cermin harmoni antara agama dan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.

Penulis: Bed (Wong Pinggiran)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *