PEMALANG | DN – Upaya menumbuhkan budaya literasi sejak dini terus digalakkan di Kabupaten Pemalang. Hal ini ditandai dengan dibukanya Lomba Bertutur tingkat SD/MI tahun 2026 oleh Bunda Literasi Kabupaten Pemalang, dr. Noor Faizah Maenofie, pada Rabu (6/5/2026).
Kegiatan yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pemalang ini dihadiri berbagai unsur, di antaranya perwakilan Kantor Kementerian Agama, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KWK) se-Kabupaten Pemalang, dewan juri, guru pendamping, orang tua, serta para peserta lomba.
Dalam sambutannya, Bunda Literasi mengajak para peserta untuk berani mengekspresikan diri melalui cerita. Ia menekankan bahwa bertutur bukan sekadar membaca, tetapi juga menghadirkan kembali cerita dengan penuh penghayatan.
“Anak-anak harus mampu menghidupkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga orang lain bisa merasakan apa yang disampaikan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk perayaan literasi yang dikemas secara menyenangkan. Dengan demikian, membaca tidak lagi dianggap sebagai aktivitas yang membosankan, melainkan menjadi petualangan seru yang dapat diceritakan kembali dengan gaya masing-masing.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pemalang, Edi Susilo Temu Raharjo, menegaskan bahwa lomba bertutur bukan sekadar ajang kompetisi. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk mengasah kemampuan literasi anak, khususnya dalam memahami dan menyampaikan kembali isi bacaan.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga mampu mengekspresikan kembali cerita yang mereka pahami. Ini penting dalam meningkatkan literasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa tingkat literasi masyarakat masih menjadi tantangan, tercermin dari Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dinilai belum optimal. Oleh karena itu, berbagai program terus digencarkan, mulai dari lomba bertutur hingga bimbingan teknis kepenulisan dan pengelolaan perpustakaan.
Dalam perlombaan ini, peserta dituntut untuk menampilkan kemampuan bertutur secara ekspresif, percaya diri, serta mampu menguasai panggung. Penilaian dilakukan tidak hanya dari segi isi cerita, tetapi juga teknik penyampaian dan penghayatan.
Melalui kegiatan ini, Bunda Literasi bersama para pemangku kepentingan berharap dapat menumbuhkan kecintaan membaca di kalangan anak-anak. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, serta memiliki kepercayaan diri tinggi dalam menyampaikan ide dan gagasan. [SIS]








