Dari Lumpur ke Harapan, Gotong Royong Menghidupkan Irigasi Patihan

  • Whatsapp

LAMONGAN | DN – Pagi di Desa Patihan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, datang dengan suara yang tak biasa. Bukan deru kendaraan atau riuh pasar, melainkan denting cangkul yang beradu dengan tanah basah, Senin (4/5/2026).

Di antara embun yang belum sepenuhnya hilang, puluhan warga turun ke lahan. Mereka tak sendiri. Seragam loreng tampak membaur di antara kaus lusuh para petani. Hari itu, warga dan personel Koramil 0812/10 Babat berdiri di garis yang sama—menggali, mengangkat, dan merapikan tanah.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tak ada sekat. Tak ada komando yang terasa kaku. Semua bergerak dalam ritme gotong royong.

Kegiatan karya bakti yang dipimpin Batuud Koramil 0812/10 Babat, Peltu Akram, menjadi lebih dari sekadar kerja fisik. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan antara harapan petani dan kepedulian aparat.

Di titik yang sebelumnya menjadi masalah, saluran irigasi tampak mulai berubah. Lumpur yang menumpuk disingkirkan, jalur air diperlebar, dan dinding saluran diperkuat agar aliran tak lagi tersendat.

Beberapa warga tampak saling melempar canda, meski peluh terus mengalir. Di sudut lain, ada yang fokus mengatur aliran air agar bisa menjangkau petak sawah yang selama ini kerap kekurangan suplai.

Bagi warga Patihan, air bukan sekadar kebutuhan. Ia adalah penentu nasib panen.

“Yang kami lakukan sederhana, tapi dampaknya besar. Kalau air lancar, petani bisa tenang, panen pun meningkat,” ujar Peltu Akram, sembari sesekali ikut mengayunkan cangkul.

Kalimat itu terdengar singkat, namun cukup mewakili kegelisahan yang selama ini dirasakan petani. Irigasi yang tersumbat bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut kepastian hidup.

Melalui karya bakti ini, harapan perlahan disusun kembali. Dari galian tanah, dari saluran yang diperbaiki, hingga dari kebersamaan yang terjalin tanpa sekat.

Di Desa Patihan, pagi itu bukan sekadar tentang memperbaiki irigasi. Ia adalah cerita tentang bagaimana gotong royong masih hidup—dan bagaimana masa depan pertanian dibangun, satu ayunan cangkul dalam satu waktu. [SAT]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *