Dalam peninjauan tersebut, Wabup juga menemukan kerusakan pada dua ulir pengatur pintu air Krembung yang telah hilang sejak empat tahun lalu. Ia berkomitmen segera berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, mengingat pintu air tersebut berada di bawah kewenangan BBWS sebagai bagian dari jaringan irigasi Delta Brantas.
“Pintu air ini sangat penting. Jika macet, aliran air ke tiga kecamatan bisa terganggu dan berdampak pada hasil pertanian,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Pengairan Dinas PU Bina Marga dan SDA Sidoarjo, Prayit, menjelaskan bahwa pengerjaan normalisasi dilakukan dari hilir ke hulu. Hingga kini, sekitar 7 kilometer sudah dikerjakan, dimulai dari wilayah Kedungsolo Porong hingga Krembung.
“Targetnya satu bulan selesai sampai Prambon. Ini pekerjaan rutin yang dilakukan secara swakelola oleh Satgas Air Dinas PU,” jelas Prayit.
Selain pengerjaan oleh pemerintah daerah, proyek normalisasi juga akan melibatkan pihak swasta. Saat ini, proses lelang sedang berlangsung untuk pengerjaan sepanjang 2,5 kilometer dari Porong hingga Jabon. Langkah ini diharapkan memperlancar aliran air bagi sekitar 1,5 hektar lahan pertanian di Jabon, terutama saat musim kemarau.
“Mulai dari jembatan arteri hingga Pejarakan masih dalam proses lelang,” tambahnya.
Dengan percepatan normalisasi ini, Pemkab Sidoarjo menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan irigasi dan mendukung produktivitas pertanian di wilayah selatan kabupaten. [SWD]








