Agus menjelaskan, Gudmurah tersebut berisi berbagai amunisi kaliber besar (MKB) dan amunisi kaliber kecil (MKK) yang sudah kedaluwarsa dan akan diledakkan atau di-disposal. Sebelum dilakukan pemusnahan tersebut, pihaknya biasanya akan melakukan pemeriksaan secara sistematis.
Di daerah tersebut, Kodam memiliki sepuluh gudang. Namun, hanya satu gudang, yaitu gudang nomor enam, yang mengalami ledakan pada Sabtu malam. Menurutnya, gudang nomor enam tersebut berisi sekitar 65 ton MKK dan MKB.
“Jadi seluruhnya ada 65 ton, makanya Kodam Jaya ada beberapa satuan, dari satuan-satuan tersebut amunisi yang SOP-nya yang sudah expired itu dikembalikan ke Kodam Paldam Jaya ini dan dikumpulkan untuk diperiksa lagi, diverifikasi. Lalu ada langkah-langkah lagi sampai dengan akhirnya di-disposal,” jelasnya.
Menurutnya, sesuai dengan prosedur operasi standar, penyimpanan gudang amunisi ini sudah dilakukan dengan baik, yaitu di bawah tanah dan jauh dari pemukiman warga. Meskipun demikian, dengan terjadinya insiden ini, TNI akan meninjau kembali SOP penyimpanan amunisi tersebut.
“Tentunya dengan kejadian ini kita akan mengevaluasi. Apabila amunisi sudah terkumpul, sistem pemeriksaan akan kita percepat dan akan segera kita disposal,” tuturnya.
Agus menegaskan, tidak ada faktor human error dari peristiwa ini, dan dilaporkan tidak ada korban jiwa. Pihaknya pun telah menyisir wilayah setempat termasuk pemukiman warga untuk mencari amunisi-amunisi yang kemungkinan terpental akibat ledakan ini.
Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Maruli Simanjuntak, yang juga melakukan inspeksi terhadap gudang tersebut, menyatakan bahwa kondisi terkini gudang penyimpanan nomor enam rusak berat. Ia menjelaskan bahwa jarak antara satu gudang dengan gudang lainnya cukup jauh.
Maruli menekankan, pihaknya ke depan akan mengevaluasi SOP penyimpanan untuk amunisi-amunisi yang sudah kedaluwarsa tersebut, termasuk mengevaluasi proses disposal yang memakan waktu cukup panjang.








