Meski roda usaha terus berputar, tantangan tak pernah berhenti. Musim hujan menjadi lawan utama. Penjemuran padi masih dilakukan secara manual dengan terpal seadanya. “Kami harus berlomba dengan hujan agar jemuran tidak basah,” katanya.
Kendala ini kerap membuat produksi tersendat. Namun, bagi Hamsah, setiap hambatan adalah pelajaran. Ia memilih bertahan dengan tenaga lokal, sambil perlahan mencari cara meningkatkan efisiensi.
Di tengah keterbatasan, semangat pantang menyerah menjadi modal terbesar. Hamsah berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih pada usaha kecil di pelosok. “Semoga usaha ini bisa berlanjut, dan pekerja tetap punya pekerjaan stabil,” harapnya.







