Menurutnya, Hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni, melainkan momentum strategis untuk memperkuat pendidikan karakter di lingkungan RA. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan cinta tanah air menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di lembaga tersebut.
“Guru RA adalah teladan pertama bagi anak-anak dalam menanamkan akhlakul karimah dan semangat nasionalisme. Mulai dari pembiasaan doa harian, hafalan surat pendek, hingga mengenal tokoh ulama, semua itu membentuk karakter santri kecil yang tangguh,” jelasnya.
Umi Zaidah juga menekankan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan RA dengan pemerintah daerah dan Kementerian Agama. Menurutnya, partisipasi KKRA dalam HSN adalah bukti nyata bahwa pendidikan anak usia dini berbasis Islam turut berkontribusi dalam pembangunan karakter bangsa.
“RA bukan hanya urusan internal madrasah, tetapi bagian dari ekosistem pendidikan nasional. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menunjukkan peran strategis RA dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia dan cinta tanah air,” tegasnya.







