Nada Sunyi di Karepattoddo: Siking dan Puik-Puik Harapan dari Rumah yang Tak Banyak Bicara

  • Whatsapp

Siking tidak memiliki sawah, tidak punya kebun. Ia tidak menggantungkan hidup pada ladang atau pasar. Yang ia miliki hanyalah puik-puik—alat musik tiup tradisional dalam kesenian gendang Makassar. Dari puik-puik itulah ia meniup harapan.

Saat ada hajatan, saat adat memanggil, Siking hadir membawa suara puik-puik yang khas. Ia menjadi bagian dari ritus, dari budaya, dari kehidupan sosial yang masih menghargai tradisi. Tapi panggilan tidak selalu datang. Ada hari-hari panjang yang ia jalani tanpa undangan, tanpa penghasilan, tanpa kepastian.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Namun Siking tidak mengeluh. Ia duduk tenang, memiringkan wajahnya, menatap dunia sebisanya. Di sampingnya, sang istri mendampingi dalam diam. Di antara mereka, seorang anak kecil tumbuh—belum tahu beratnya hidup orang tuanya, tapi menjadi alasan paling kuat untuk tetap bertahan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *