Sebelumnya, Kementerian ESDM menetapkan target produksi batu bara 2026 sebesar 600 juta ton, turun signifikan dari proyeksi 790 juta ton pada 2025. Produksi bijih nikel juga dibatasi pada kisaran 250–260 juta ton, jauh di bawah RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Kebijakan pemangkasan kuota tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran ketidakseimbangan pasokan dan permintaan global. Pada Juli 2025, harga batu bara sempat menyentuh 97,65 dolar AS per ton. Namun, sejak awal Maret 2026, harga melonjak tajam hingga menembus 130 dolar AS per ton, dipicu gangguan distribusi minyak mentah dan LNG akibat konflik Timur Tengah.








