Menurut juru kunci makam, Ahmad, Syekh Abdullah Mudzakir adalah pejuang Islam yang menyebarkan agama sekaligus melawan penjajah Belanda sekitar tahun 1869–1900. “Mbah Mudzakir adalah tokoh yang berperan besar dalam dakwah Islam di pesisir Demak. Makam ini juga menjadi tempat peristirahatan keluarga beliau, dari istri hingga menantu,” jelas Ahmad.
Ia menambahkan, di bawah kompleks makam terdapat ratusan makam lain yang ikut terkubur akibat abrasi. Meski demikian, lokasi ini tetap ramai dikunjungi peziarah, bahkan dari luar Jawa dan mancanegara.
KH Muklis, warga Lamongan yang turut hadir bersama jamaahnya, mengungkapkan bahwa ziarah ke makam waliyullah sudah menjadi rutinitas. Namun, baru kali ini ia berkesempatan datang ke makam Syekh Mudzakir. “Selain mengingat perjuangan para wali dalam menyebarkan Islam, ziarah juga mengingatkan kita akan kematian. Di sini kami membaca Alquran, tahlil, dan mengirim doa,” ujarnya.







