Negara mungkin hadir di tabel, grafik, dan laporan. Namun di dapur Siking, negara belum hadir. Fakta yang ada hanya:
- Tiga hari tanpa memasak.
- Dua liter beras dari saudara.
- Bantuan negara yang belum sampai.
Kondisi ini tidak membutuhkan klarifikasi panjang. Yang dibutuhkan adalah kehadiran nyata: melihat langsung, mendengar langsung, dan memastikan langsung.
Dapur Siking Dg Se’re bukan sekadar ruang memasak. Ia adalah cermin besar yang memantulkan wajah kebijakan sosial kita. Dari sana publik bisa menilai apakah negara benar-benar hadir atau sekadar merasa sudah hadir.
Ketika warga bertahan hidup dari dua liter beras, sementara negara bertahan pada kalimat “sudah sesuai mekanisme”, maka ada jarak yang terlalu lebar untuk diabaikan. Jarak itu hanya bisa dipersempit dengan satu cara: turun ke lapangan, sebelum kepercayaan publik benar-benar habis dimakan sunyi. [D’Kawang]







