Meski menghadapi kendala teknis, seperti lokasi pembangunan yang berada di lahan sawah dan tambak sehingga membutuhkan pengurukan tanah, Deni menegaskan hal itu tidak menjadi hambatan. “Justru kami jadikan peluang agar pekerjaan tetap berjalan dan seluruh 301 titik bisa terus berprogres,” ujarnya.
Pembangunan KDMP di Lamongan diperkirakan akan memperkuat ekonomi lokal, terutama di sektor pertanian dan perikanan. Dengan koperasi desa sebagai pusat aktivitas ekonomi, masyarakat diharapkan lebih mandiri, tidak bergantung pada tengkulak, serta memiliki akses lebih luas terhadap pasar dan permodalan.
Lebih jauh, keberhasilan Lamongan diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia. KDMP bukan hanya simbol kebangkitan ekonomi desa, tetapi juga wujud nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan aparat TNI dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis lokal. [NH]






