Banjir Bengawan Jero bukan fenomena baru. Setiap tahun, ribuan rumah dan tambak di Lamongan terendam. Publik pun bertanya: sampai kapan masalah ini hanya ditangani dengan pompa darurat dan bantuan sembako?
Kehadiran gubernur memberi harapan, tetapi juga menegaskan kebutuhan solusi jangka panjang:
- Normalisasi aliran sungai dan perbaikan pintu air.
- Pembangunan tanggul dan sistem polder yang berkelanjutan.
- Skema kompensasi ekonomi bagi petani tambak yang kehilangan mata pencaharian.
- Edukasi kesiapsiagaan masyarakat agar tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah.
Kunjungan Khofifah ke Lamongan menjadi potret kepemimpinan yang hadir di tengah krisis. Bantuan darurat, pasar murah, hingga mitigasi cuaca menunjukkan ikhtiar pemerintah. Namun, banjir Bengawan Jero tetap menjadi alarm tahunan yang menuntut keberanian politik dan konsistensi kebijakan.
Publik menunggu bukti, bukan janji: apakah Lamongan akan terus tenggelam setiap musim hujan, atau akhirnya bangkit dengan sistem pengendalian banjir yang tangguh dan berkelanjutan. [NH]






