‘Efek Jokowi’, Bagaimana Pengaruh Presiden pada Pemilihan Penggantinya

  • Whatsapp
Foto Presiden Joko Widodo (kanan), berjabat tangan dengan Menteri Pertahanan dan calon presiden Prabowo Subianto, ditampilkan di layar lebar saat kampanye di Stadion Utama Gelora Bung Karno di Jakarta, Sabtu, 10 Februari 2024. (AP/Dita Alangkara)

(DN) – Namanya tidak tercantum dalam surat suara, namun Presiden Joko Widodo (Jokowi), tampak menonjol pada pemilu hari Rabu (12/2) di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini, dan tidak terkecuali di provinsi asalnya, Jawa Tengah.

Poster-poster kampanye yang terpampang di sepanjang tepi sungai di ibu kota provinsi Jawa Tengah, Semarang, bertuliskan “Jokowi Memilih Gerindra” yang merujuk bukan pada partai politik presiden sendiri, melainkan partai saingannya yang dipimpin Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto.

Bacaan Lainnya

Jokowi secara resmi belum mendukung siapa pun dalam pencalonan untuk menggantikannya, namun status putranya sebagai pasangan calon wakil presiden secara luas dianggap sebagai tanda persetujuan presiden.

Setelah menjabat selama dua periode, Jokowi akan menyelesaikan tugas pada Oktober, namun dengan tingkat persetujuan sebesar 80 persen, dia memegang kendali besar atas 205 juta pemilih di Indonesia.

Prabowo, yang kalah dari Jokowi dalam dua pemilihan presiden terakhir, kali ini unggul, dan para analis menilai dukungan yang diberikan oleh petahana, sebuah fenomena yang oleh sebagian orang disebut sebagai “efek Jokowi.”

Dampaknya terutama terlihat di Jawa Tengah, di mana mantan Gubernur Ganjar Pranowo yang pernah dipandang sebagai penerus alami Jokowi, kini kehilangan keunggulan dalam hal popularitas.

Titik balik terjadi ketika Prabowo mencalonkan putra Jokowi yang berusia 36 tahun, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon presiden, kata Kennedy Muslim, seorang analis dari lembaga jajak pendapat Indikator Politik.

“Manuver tunggal ini telah membuahkan hasil yang besar dalam jajak pendapat selama tiga bulan terakhir dalam meningkatkan dukungan terhadap Prabowo,” kata Muslim, seraya menggambarkan “migrasi drastis loyalis Jokowi.”

Tidak jelas apakah keunggulan dua digit Prabowo atas Ganjar dan mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan akan menghasilkan lebih dari 50 persen suara yang diperlukan untuk menghindari pemilihan putaran kedua, meskipun jajak pendapat baru-baru ini menempatkannya pada posisi yang kuat.

Setahun yang lalu, kandidat terdepan dalam pemilu ini adalah Ganjar yang fotogenik. Jokowi dan Ganjar adalah anggota Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P) yang dipimpin oleh Megawati. Kisah Ganjar diharapkan mencerminkan perjalanannya dari seorang gubernur pekerja keras di Jawa Tengah, menjadi pemimpin ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, gambaran tersebut berubah secara radikal. Jokowi tampak semakin dekat dengan Prabowo di tengah berbagai laporan mengenai keretakan hubungan antara presiden dan Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri.

“Darah Lebih Kental Dari Partai”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *