Perjuangan Petugas Pemilu Indonesia di Luar Negeri: Diincar Buaya, Disundul Hiu, hingga Digigit Suhu Udara Super Dingin

  • Whatsapp
Pemilih membuka surat suara, memastikan masih kosong dan tidak rusak sebelum mencoblos di TPS Luar Negeri di Moskow. (Foto: Courtesy/PPLN Rusia)

Walau jauh dari Tanah Air, diaspora Indonesia di seluruh dunia tetap antusias memberikan hak suara. Antusiasme mereka mendorong petugas pemilihan di luar negeri menyambangi pemilih, meskipun harus menghadapi beragam tantangan termasuk bertemu binatang buas dan menempuh perairan yang sarat buaya.

(DN) – Begitu fajar menyingsing, petugas panitia pemilihan luar negeri (PPLN) Mozambik sudah berada di tepi sungai. Sampan nelayan siap membawa mereka bertugas khusus hari itu, membawa kotak suara keliling (KSK). Ketua PPLN Maputo, Taufik Herlambang, menunjukkan video singkat.

Bacaan Lainnya

“Arahnya ke sana, ke ujung. Masih jauh. Bismillah. Mohon doanya teman-teman,” kata Taufik sambil memohon doa.

Pasalnya, “Kami bukan orang laut semua. Ada yang tidak bisa berenang. Ada yang sudah tua.”

Untuk sampai ke tepi sungai, Taufik dan tim harus menempuh 10 jam perjalanan beraspal yang bukan kelas satu, dari Maputo, ibu kota Mozambik. Hampir tiap jam, mereka disetop empat orang di pos pemeriksaan yang bersenjata senapan AK-47, bertanya sambil melongok-longok ke mobil. Taufik sempat gugup, tetapi karena pemeriksaan begitu bertubi-tubi, ia akhirnya bosan.

Petugas KPPSLN Maputo menunjukkan surat suara yang masih kosong kepada pemilih terdaftar di kotak suara keliling yang diadakan di sampan nelayan. (Foto: Courtesy/PPLN Mozambik)

Perjuangan Petugas Pemilu Indonesia Di Luar Negeri 2
Petugas KPPSLN Maputo menunjukkan surat suara yang masih kosong kepada pemilih terdaftar di kotak suara keliling yang diadakan di sampan nelayan. (Foto: Courtesy/PPLN Mozambik)

“Pertanyaannya selalu sama. Ini apa? Ini barang apa? Ya…10 jam perjalanan. Saya kaget. Ih banyak banget ya. Baru ini, cek lagi, cek lagi, cek lagi. Jadi kami ya…pura-pura santai aja biar pun serem,” ujarnya.

Pagi itu sampan siap mengantar, menyusuri sungai menuju muara dan akhirnya laut lepas untuk menyambangi 56 warga Indonesia yang terdaftar sebagai pemilih. Perjalanan tidak terasa nyaman karena…

“Sepanjang perjalanan lalatnya gak bisa hilang. Lalat gede-gede. Bagi saya aneh. Sepanjang jalan lalat mengerebungi kita, kan aneh. Itu kita tidak siap. Kita berharap nyamuk. Ternyata ketemunya lalat. Yang beneran gede lalatnya dan katanya bisa nelurin larva di tubuh kita,” kata Taufik.

Taufik sempat menelan seekor lalat itu. Dia kesal tapi orang lokal di sampan mengingatkan bahwa lalat itu protein.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *