Profil Golkar: Mengubah Citra Warisan Orba Jadi Partai Pilihan Generasi Muda

  • Whatsapp
Pendukung Partai Golkar saat kampanye di Solo, Jawa Tengah 27 Mei 1999. (Foto: Reuters)

Dinamika politik Indonesia tidak terlepas dari kehadiran Partai Golongan Karya (Golkar), yang lahir pada 1964 sebagai respons terhadap pengaruh Partai Komunis Indonesia. Didirikan oleh mendiang Presiden Suharto dan Suhardiman, Golkar berhasil menjadi salah satu kekuatan politik tertua yang masih eksis hingga saat ini.

Pasca reformasi, elektabilitas partai berlambang pohon beringin itu mengalami pasang surut. Hal itu tak lepas dari citranya yang lekat dengan tampuk kekuasaan rezim Orde Baru. Dalam beberapa kali gelaran pesta demokrasi, Golkar bahkan harus berpuas diri berada di bawah posisi partai-partai yang baru lahir, seperti Demokrat dan Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Namun, harus diakui bahwa Golkar masih tak tergoyahkan dalam lingkaran partai tiga besar.

Bacaan Lainnya

Golkar sendiri tak tinggal diam dan terus melakukan sejumlah terobosan untuk mempertahankan elektabilitasnya dengan mengikis kesan sebagai partainya penguasa. Dikutip dari situs website Golkar, partai tersebut bahkan mendeklarasikan dirinya sebagai partai politik modern yang tidak lagi menjadi mesin pemilu atau alat politik untuk melegitimasi kekuasaan.

Mahasiswa memegang bendera Partai Golkar yang dibakar dengan tulisan "bubarkan Golkar" saat demonstrasi di Jakarta 18 Mei 1999 usai reformasi. (Foto: Reuters)
Mahasiswa memegang bendera Partai Golkar yang dibakar dengan tulisan “bubarkan Golkar” saat demonstrasi di Jakarta 18 Mei 1999 usai reformasi. (Foto: Reuters)

Mempertahankan elektabilitas

Hegemoni Golkar dalam pemilihan umum (pemilu) berakhir pada saat pesta demokrasi lima tahunan kembali digelar usai Presiden Soeharto lengser pada 1999. Saat itu Golkar harus legowo di posisi runner up. Mengutip data Statistik Badan Pusat Statistik, ‘si beringin’ hanya berhasil meraup 23.675.511 suara (25,97 persen) atau 120 kursi di parlemen. Artinya Golkar kehilangan 205 kursi dibandingkan Pemilu 1997. Saat itu, Partai PDI Perjuangan (PDIP) keluar menjadi juara dengan mengantongi 33,12 persen.

Namun pada Pemilu 2004, Golkar kembali menunjukkan taringnya dengan berhasil meningkatkan elektabilitas dengan raihan 23,09 persen. Tak bertahan lama, Golkar hanya berhasil bertengger di posisi kedua setelah Partai Demokrat pada Pemilu 2009. Saat itu Golkar meraih dukungan sebesar 14,45 persen atau 14.576.388 suara.

Golkar kembali menduduki peringkat kedua setelah PDIP pada Pemilu 2014 dengan 18.424.715 atau 14,75 persen suara. Namun pada Pemilu 2019 posisi Golkar melorot ke peringkat ketiga disalip PDIP dan Gerindra lewat peraihan suara sebanyak 12,31 persen.

Umar Bakry, pendiri Lembaga Survei Nasional (LSN). (Foto: Dok Pribadi)
Umar Bakry, pendiri Lembaga Survei Nasional (LSN). (Foto: Dok Pribadi)

“Ini suatu pukulan telak sebagai penguasa Orba,” ujar Umar Bakry, pendiri Lembaga Survei Nasional (LSN).

Sigi yang dilakukan oleh lembaga survei Indikator Politik Indonesia pada 20 Januari 2024 memproyeksikan komposisi pemenang tiga besar dalam Pemilu 2024 kemungkinan tidak bergeser dari perolehan 2019. Golkar diperkirakan akan kembali menduduki posisi ketiga, di bawah PDIP dan Gerindra, dengan mengantongi suara sekitar 11,2 persen.

Proyeksi raihan Pilpres 2024 tersebut hampir serupa dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan Kompas pada Desember 2023 yang menyatakan Golkar diperkirakan akan menempati urutan ketiga setelah PDIP dan Gerinda, dengan suara sekitar 8 persen.

Partai Anak Muda

Saat ini, Golkar berambisi untuk meningkatkan elektabilitas dengan terus melakukan perubahan besar-besaran. Salah satunya adalah dengan menunjukkan citra yang lebih segar dan relevan dengan generasi muda. Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartato pada 21 Oktober menegaskan bahwa Golkar memang terus melakukan kaderisasi dan berkomitmen untuk mendidik kader di bawah usia 40 tahun.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *