AJI: Kebebasan Pers di Indonesia 2023 dalam Kondisi Krisis

  • Whatsapp
Jurnalis anggota AJI dan PPMI Kota Solo berorasi dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia di Monumen Pers, Solo, Jumat (3/5/2019). (Foto: AJI Solo)

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyatakan situasi kebebesan pers di Tanah Air sepanjang 2023 dalam kondisi krisis.

( DN ) – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyatakan kebebasan pers di Tanah Air sepanjang 2023 berada dalam kondisi yang krisis. Sekjen AJI Indonesia, Ika Ningtyas, menilai krisis kebebasan pers dapat dilihat dari konsentrasi kepemilikan media yang cukup kuat terhubung langsung dengan partai politik maupun oligarki bisnis tertentu. Hal itu menjadi tantangan serius terhadap independensi ruang redaksi.“Ini menjadi tantangan (karena) ada intervensi pada upaya memproduksi, tidak ada independensi,” kata Ika dalam peluncuran laporan situasi kebebasan pers 2023 secara daring, Rabu (31/1).

Bacaan Lainnya

Krisis kebebesan pers di Indonesia, tambahnya, juga dipengaruhi oleh model bisnis media massa yang berbasis klik (click-bites), yang masih cukup dominan, terutama media daring. Hal itu bisa berdampak terhadap produk jurnalisme yang bermutu rendah.

Wartawan melakukan protes menentang pemenjaraan wartawan Reuters Wa Lone, 32, dan Kyaw Soe Oo oleh otoritas Myanmar, di luar Kedutaan Myanmar di Jakarta, 7 September 2018. (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)
Wartawan melakukan protes menentang pemenjaraan wartawan Reuters Wa Lone, 32, dan Kyaw Soe Oo oleh otoritas Myanmar, di luar Kedutaan Myanmar di Jakarta, 7 September 2018. (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)

“Ini bisa mendorong bagaimana media-media yang memproduksi jurnalisme bermutu rendah, yang justru mengamplifikasi propaganda, disinformasi, dan narasi kebencian di tengah manipulasi informasi yang cukup masif di media sosial,” ujar Ika.

Menurut AJI Indonesia, krisis kebebasan pers juga terlihat dari tingginya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap jurnalis selama 2023. Setidaknya hampir 1.000 jurnalis dan pekerja media menjadi korban PHK yang dilakukan perusahaan media.

“Ini membuat jurnalis masih berada dalam situasi kesejahteraan yang rendah sementara masa depan yang kian tak pasti,” ungkap Ika.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *