KEDIRI | DN – Upaya membentengi kesehatan peserta didik dari risiko jajanan tidak aman terus digalakkan. SMP Negeri 1 Kras berkolaborasi dengan Puskesmas setempat menggelar sosialisasi kewaspadaan dan deteksi dini keamanan pangan yang diikuti oleh seluruh warga sekolah.
Langkah preventif ini difokuskan pada peningkatan literasi siswa dalam memilah makanan dan minuman harian. Dalam sesi edukasi, para siswa dibekali kemampuan praktis untuk mengenali ciri-ciri fisik pangan yang cerminkan kandungan berbahaya, mulai dari perubahan warna, bau, hingga tanggal kedaluwarsa.
Tidak hanya seputar kualitas bahan makanan, tim medis Puskesmas juga menekankan pentingnya Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Keterampilan dasar seperti kebersihan tangan, higienitas alat makan, serta sanitasi area penyiapan makanan menjadi poin mendasar yang disosialisasikan.
Kepala SMPN 1 Kras menjelaskan bahwa kesadaran akan pangan sehat harus ditanamkan sejak dini mengingat tingginya aktivitas konsumsi siswa di lingkungan sekolah.
“Keselamatan dan kesehatan siswa adalah prioritas utama. Melalui edukasi ini, kami ingin membentuk karakter siswa yang lebih kritis dan tidak asal beli makanan, baik di area kantin maupun di luar sekolah,” ujar [Nama Kepala SMPN 1 Kras].
Sementara itu, perwakilan Puskesmas menegaskan bahwa deteksi dini merupakan kunci utama dalam memutus rantai potensi gangguan kesehatan massal akibat makanan tak layak hantar.
“Kewaspadaan mandiri adalah benteng pertahanan terbaik. Jika siswa mampu mengenali tanda-tanda awal pangan berbahaya dan tahu ke mana harus melapor, potensi kasus keracunan dapat kita cegah sedini mungkin,” ungkap [Nama Petugas/Kepala Puskesmas].
Melalui sinergi promotif antara lembaga pendidikan dan fasilitas kesehatan ini, kebiasaan mengonsumsi makanan higienis diharapkan tidak hanya diterapkan di lingkungan sekolah, melainkan menjadi gaya hidup berkelanjutan di rumah masing-masing. [Yud]








