TUBAN | DN – Kelanjutan megaproyek kilang minyak Grass Root Refinery (GRR) Tuban dipastikan tetap berjalan sesuai rencana awal. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa kemitraan strategis antara PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan asal Rusia, Rosneft, hingga kini masih terus berproses.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proyek yang dirancang untuk memperkuat ketahanan energi nasional tersebut masih dalam status aktif (on progress).
“Oh Rosneft, nanti tanya Pertamina itu, itu kan kerja sama Pertamina dengan Rosneft. Tapi sejauh yang saya tahu masih on,” ujar Bahlil saat meninjau fasilitas Mini Liquefied Natural Gas (LNG) Plant PT Sumber Aneka Gas (SAG), dikutip Jumat (26/6).
Senada dengan Menteri ESDM, pihak PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) juga menepis isu miring terkait adanya rencana pergantian mitra akibat dampak konflik geopolitik Rusia-Ukraina serta sanksi ekonomi dari Amerika Serikat (AS).
Corporate Secretary KPI, Hermansyah Y. Nasroen, menegaskan bahwa status hukum dan komitmen kedua belah pihak masih terikat kuat dalam skema joint venture (JV) melalui PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP). Adapun porsi kepemilikan saham dalam proyek ini adalah 55 persen milik Pertamina dan 45 persen dipegang oleh Rosneft.
“Sampai saat ini, Pertamina masih bersama Rosneft. Terlepas dari urusan sanksi, kita kan ada JV dengan Rosneft. Kita masih bersama dia, masih terikat dengan JV itu,” kata Hermansyah saat memberikan keterangan di Jakarta Pusat.
Proyek GRR Tuban sendiri didesain memiliki kapasitas pengolahan utama yang sangat masif, yakni mencapai 15 juta ton per tahun (MMTA). Selain memproduksi BBM, kilang raksasa ini juga diproyeksikan menghasilkan produk petrokimia, seperti etilen sebanyak 1 MMTA dan hidrokarbon aromatik sebesar 1,3 MMTA.
Manajemen Pertamina kini tengah fokus mengejar ketertinggalan target agar target operasional pada tahun 2025 dan penetapan keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) dapat segera rampung. Hermansyah tidak menampik bahwa proyek sempat mengalami keterlambatan, namun hal tersebut murni karena dinamika teknis pada proses tender.
“Memang sepertinya proses FID-nya yang mungkin agak terlambat, karena ini kan memang besar banget. Saya tidak melihat ada kendala-kendala lain, memang mungkin perhitungannya EPC tender-nya yang membuat sedikit terlambat,” pungkas Hermansyah.
Perjalanan proyek ini sejatinya telah dimulai sejak November 2017 lewat pembentukan PT PRPP, yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama desain teknik (BED dan FEED) bersama Spanish Tecnicas Reunidas SA di Moskow pada 2019 lalu. Setelah sukses meresmikan proyek RDMP Balikpapan pada awal Januari 2026, Pertamina kini menaruh fokus penuh untuk menuntaskan Kilang GRR Tuban. [J2]








