Luka Berlapis Korban Pelecehan Pesantren, Gus Salam: Negara Tak Boleh Absen

  • Whatsapp

JOMBANG | DN — Pengasuh Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Abdussalam Shohib, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang kiai di Pati terhadap puluhan santriwati. Ia menegaskan, pemerintah harus segera turun tangan memberi perlindungan dan pemulihan menyeluruh bagi para korban beserta keluarganya.

Menurut Gus Salam—sapaan akrab Abdussalam—sebagian besar korban berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan ada yang yatim. Kondisi tersebut membuat negara berkewajiban hadir secara nyata, tidak hanya pada aspek hukum, tetapi juga pemulihan sosial dan ekonomi.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Korban mengalami luka berlapis: psikologis, sosial, ekonomi, hingga masa depan mereka. Ini tak boleh dibiarkan. Pemerintah harus memastikan ada perlindungan dan program pemulihan yang berkelanjutan,” ujar Gus Salam di Jombang, Selasa (5/5).

Ia menilai, peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi komunitas pesantren. Namun demikian, Gus Salam menegaskan bahwa tindakan pelaku adalah ulah oknum dan tidak mewakili nilai-nilai pesantren. Karena itu, ia mendorong langkah konkret agar tragedi serupa tidak berulang.

“Kasus di Pati harus menjadi momentum introspeksi bersama. Pesantren perlu bersikap reflektif, menutup celah-celah kelemahan, dan memperkuat sistem perlindungan santri,” katanya.

Gus Salam juga mengajak seluruh jejaring pesantren dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan untuk meningkatkan peran pengawasan dan pendampingan. Menurutnya, NU memiliki perangkat dan sumber daya yang memadai untuk membantu pembenahan tata kelola pesantren.

“Melalui Rabithah Ma’ahid Indonesia, NU dapat menyiapkan sistem, prosedur, serta pendampingan agar pelayanan pesantren semakin aman dan adaptif,” pungkasnya.

Ia menutup dengan harapan agar negara, masyarakat, dan lembaga keagamaan berjalan seiring memastikan keadilan bagi korban, sekaligus menjaga marwah pesantren sebagai ruang aman bagi pendidikan dan pembentukan karakter generasi masa depan. [STS/Red]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *