LAMONGAN | DN – Di Desa Gunungrejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, banjir awal tahun bukan sekadar air yang merendam sawah. Bagi para petani, banjir adalah mimpi buruk yang datang berulang, merenggut harapan panen dan masa depan keluarga.
Kepala Desa Gutomo masih ingat wajah murung warganya ketika melihat hamparan padi yang baru ditanam kembali terendam. Dari 160 hektar sawah, hanya 60 hektar yang bisa diselamatkan. Sisanya, 100 hektar padi membusuk, tak lagi bisa dipanen.
“Warga sudah dua kali tanam, yang pertama habis, ditanam lagi, sekarang habis lagi. Seratus hektar sudah busuk tidak terselamatkan,” kata Gutomo dengan nada berat.
Bagi petani seperti Pak Suyatno, sawah bukan sekadar lahan, melainkan sumber kehidupan. Dari hasil panen, ia membiayai sekolah anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, dengan tanaman yang gagal panen, ia harus berhutang untuk membeli benih baru.
“Kalau gagal panen begini, kami bingung. Anak mau sekolah, biaya hidup tetap jalan, sementara sawah tidak menghasilkan,” ujarnya lirih.







